Eksistensi Gerakan aktivis’98 dan Aktivis Kepentingan

kawan…

sedikit saya ingin menjabarkan sedikit proses terjadinya gelombang gerakan demonstrasi ’98 yang menjadi besar saat itu, yang mana pelaku sejarah saat itu menerima sebutan sebagai “Aktivis ’98”

ilustrasi-demo-buruh1

Misi pembebasannya dari penindasan totaliter mantan Presiden Soeharto mendapatkan stereotip positif dan apresiasi yang besar dari seluruh rakyat Indonesia. Kenginan untuk hidup lebih baik dan berdaulat mendorong gerakan besar yang di usung oleh Mahasiswa pada saat itu. Gerakan yang di pelopori mahasiswa ini kemudian di kenal dengan gerakan aktivis 98 sebagai simbol jatuhnya rezim orde baru. Keberhasilan gerakan aktivis 98 menumbang rezim orde baru ternyata merupakan sikap spontanisme untuk menyahuti tuntutan besar rakyat yang di terhimpit persoalan ekonomi, seperti naiknya harga-harga barang dan kekacauan sistem ekonomi politik pada saat itu. Gerakan aktivis 98 ini juga tidak meletakan landasan yang ingin di capai tentang Indonesia baru pada saat itu. Hal ini menyebabkan terjadinya fragmentasi gerakan mahasiswa di tengah kebingungan akan nasib dan masa depan bangsa ini. Dan Kebingungan ini di manfaatkan dengan sangat cermat oleh kekuatan-kekuatan ekonomi rezim orde baru yang dengan cepat berhasil mengkonsolidasikan dirinya dengan membentuk kekuatan politik yang baru yang selanjutkan akan mengamankan kepentingan ekonomi dan politik mereka tentunya.

ini adalah sebuah dasar mengapa saya memberi Judul tulisan ini ;

” Eksistensi Gerakan Aktivis ’98 dan Aktivis Kepentingan.”

Mengapa..?

awalnya karena keinginan hidup lebih baik dan berdaulat, akhirnya saat itu mendorong muncul dan lahirnya organ-organ dan buffer-buffer aksi yang bekerja untuk melakukan pengorganisasian isu, pengorganisasi rakyat dan berbagai gelombang demonstrasi baik di kota maupun di daerah. dan mahasiswa tidak henti-hentinya dengan lantang menolak kebijakan-kebijakan rezim Orde baru saat itu.

dan akhirnya bermunculan orator – orator yang menyuarakan dengan lantang penderitaan rakyat pada saat itu…

Yaa.. saat itu semua Satu Suara, Satu Barisan dan Satu Tujuan…

Pantang menyerah dan pantang Mundur… dimulai gerakan demonstrasi kecil di kampus – kampus, bergerak menjadi gerakan demonstrasi di tempat – tempat publik dan berakhir melakukan demonstrasi di tempat pemerintahan dan legislatif.

Kepentingan Politik Poros Tengah muncul disaat gelombang gerakan demonstrasi membesar hingga bisa mengulingkan Pemimpin dari Rezim Orde Baru.

Setelah itu Gerakan mahasiswa terbelah… ya terbelah oleh kekuatan Politik yang menggunakan kelemahan gerakan mahasiswa saat itu.

mulailah tidak terlihat, mana teman, mana kawan dan mana lawan…

masing – masing dari Orator dan pemimpin gerakan Mahasiswa saat itu sudah memilih jalannya masing – masing…

ada Organisasi Gerakan Mahasiswa yang masih eksis didalam gerakannya menyuarakan penderitaan rakyat..

ada Organisasi Gerakan Mahasiswa yang memilih dijadikan alat untuk kepentingan politik baru yang berkoalisi saat itu..

ada Organisasi Gerakan Mahasiswa yang tidak memilih namun ikut bergerak disaat isu yang diangkat saat itu sama..

dan ada beberapa Organisasi Gerakan Mahasiswa yang Diam dan tidak ikut bergerak

dan disaat kondisi seperti inilah lahir aktivis – aktivis gerakan ’98 yang mempunyai kepentingan dan tidak memikirkan kembali penderitaan rakyat yang selama ini mereka suarakan..

Mereka mulai saat itu sudah memikirkan ambisius mereka untuk bisa masuk diranah politik, dimulai dengan mendekati kader-kader politik dari partai-partai yang bisa menggandeng atau mengajak mereka masuk berkiprah didunia politik dan menjadi elit politik.

inilah kondisi nyata… walaupun saya yakin, masih ada Organisasi Mahasiswa ataupun aktivis’98 yang lainnya, yang masih fokus dan menjaga komitmennya menyuarakan pembebasan penderitaan rakyat…

ada satu slogan yang dulu masih digaungkan saat gerakan ’98 yang mungkin pernah dipegang bersama oleh para aktivis saat itu..

Dimana ada Penindasan, hanya ada satu kata “Lawan”

Dimana masih ada Rakyat yang menderita, tidak ada kata untuk tidak bergerak.

” Tunduk ditindas, bangkit melawan karena diam adalah Penghianat.”

Mungkin saat ini Penghianat – penghianat itu mulai bermunculan, saat kerja-kerja mereka sudah tidak memihak kepada 200 juta Rakyat Indonesia.

dan ingat kawan ;

suka gak suka, mau gak mau…

ketika sudah menjadi bagian didalam sistem,

maka tidak ada yang bisa melawan sistem… kecuali lepas dari sistem itu..

atau menghancurkan sistem tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s