Cerita Legenda Rasa Melawan Masa yang ada di Pekalongan.


Limun Oriental Cap Nyonya
Legenda Rasa Melawan Masa [ photo by @babahboim ]

Menikmati minuman segar yang minumannya menyimpan sebuah cerita Legenda Rasa Melawan Masa.

Pekalongan tidak hanya punya batik, tapi juga minuman limun yang masih eksis sejak tahun 1923.

Buat kalian yang suka jalan-jalan, Ada satu tempat di Pekalongan  yang bisa kalian kunjungi dan bisa menikmati minuman segar yang minumannya menyimpan sebuah cerita Legenda Rasa Melawan Masa.

Jauh sebelum ada aneka softdrink dan minuman cola, limun sudah lebih dulu menghiasi meja makan dan warung-warung saat itu.

Namun tidak hanya sekedar menjadi warisan cerita legenda dari masa lalu, karena masih ada minuman limun yang diproduksi secara semi-tradisional di Pekalongan dan tetap mempertahankan rasa, yaitu Limun Oriental Cap Nyonya, sebuah merk minuman segar yang sudah lama eksis dari Pekalongan sebelum  Indonesia merdeka dan tetap ada hingga kini.

Usaha minuman limun itu sudah dirintis sejak tahun 1920 di Kedungwuni (Kecamatan di Pekalongan ). Akhirnya pada tahun 1923 pindah ke jalan Rajawali Utara, pekalongan. Awalnya minuman sirup  ini belum ada gasnya, yang akhirnya berkembang menjadi minuman sirup bergas.

Dahulu minuman limun ini memiliki nama awal Fabriek Lemonade en Mineral Water Njoo Giok Lien. Resepnya pun dipelajari langsung dari Belanda saat itu.

Berbekal ilmu dari Belanda,  akhirnya minuman sirup ini berubah nama menjadi Limun Oriental Cap Nyonya, pemilik usaha ini berhasil memproduksi 9 varian rasa minuman limun. Yakni rasa nanas, kopi moka, jeruk, framboze, sirsak, lemon, anggur, leci dan korma.

Namun kini, hanya tersedia 6 rasa saja.

Dalam perjalanannya, Limun Oriental Cap Nyonya pun juga pernah mengalami jatuh bangun. Namun berkat usaha dan konsistensi, limun ini bisa jadi merupakan salah satu yang masih tersisa dan bertahan hingga saat ini.

“Jatuh bangunnya minuman sirup ini terjadi saat minuman cola fanta itu masuk dan akhirnya minuman sirup ini mulai turun pasarnya, terasanya tepat pada tahun 80an karena omsetnya turun drastis.

Minuman sirup ini mengalamai masa jayanya sekitar tahun 60-70-an, pabriknya pun rutin kedatangan truk yang membawa ratusan botol bekas limunnya untuk dicuci dan diisi ulang. Namun sekarang, jumlah produksinya bisa dibilang sudah sangat menurun.

“Dulu truk-truk kan datang per botol itu nyucinya banyak sampai malam. Dulu untuk Produksinya sejam bisa mencapai 500 botol, 2 jam itu maksimal 40 sampai dengan 48 petian.”

Limun Oriental Cap Nyonya
Legenda Rasa Melawan Masa [ Photo by @babahboim ]

Namun sampai saat ini untuk semua proses pembuatannya masih dilakukan secara semi-manual atau tradisional oleh delapan pekerja dipabrik yang tepat berada dibelakang cafe. Dan limun ini masih dipasarkan ke sejumlah rumah makan dan warung di daerah Pekalongan dan sekitarnya. Jadi buat kalian yang penasaran dan ingin mencoba bernostalgia sambil menikmati kesegaran limun ini pun bisa datang langsung ke pabriknya di Jalan Rajawali utara No 15 atau tepat di belakang Rutan Lodji. Harga sebotol limunnya dihargai Rp 5 ribu dan Rp 7 ribu jika dibawa pulang. Limun Oriental Cap Nyonya buka setiap hari kecuali hari Jumat dan libur nasional dari pukul 09.00-16.00 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.