35 Kilometer dari Kota Ambon, Masjid Berusia 7 Abad Ini Berdiri KOKOH


Mesjid Tua Wapauwe
photo by: Phosphone/IndonesiaKaya

Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Tipologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

Masjid Tua Wapauwe adalah Masjid yang sangat bersejarah dan merupakan masjid tertua di Maluku. Umurnya mencapai tujuh abad. Masjid ini dibangun pada tahun 1414 Masehi.

Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Kedatangan Perdana Jamilu ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni untuk menyebarkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan dari Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 setelah Portugis pada tahun 1512. Sebelum pecahnya Perang Wawane tahun 1634, Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan pada tahun 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak 6 km sebelah timur Wawane.

Ditempat yang baru masjid ini berada di suatu daratan di mana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Tipologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu. Sampai saat ini Masjid Wapauwe masih berdiri kokoh.

Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan tidak terkecuali penduduk kelima negeri tadi. Proses pemindahan lima negeri ini terjadi pada tahun 1664, dan tahun itulah ditetapkan kemudian sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

Untuk mencapai wilayah Kaitetu, dari Pusat Kota Ambon kita dapat menggunakan kendaraan bermotor menuju Negeri Kaitetu yang berada di wilayah utara Pulau Ambon. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan dan kita akan melewati jalan memotong wilayah pegunungan dan berakhir di pesisir pantai utara Ambon. Jarak yang ditempuh sebenarnya hanya sekitar 35 kilometer dari kota Ambon, namun perjalanan menjadi lebih lama karena kontur jalan yang tidak rata dan berkelok-kelok. Tetapi tidak perlu kuatir bosan karena selama perjalanan kita akan melihat pemandangan pegunungan dan pesisir utara pulau Ambon yang indah.

Masjid Wapauwe adalah Masjid yang memiliki arsitektur indah bergaya mirip bangunan Jawa yang bernama Joglo. Masjid ini tidak memiliki kubah dan sekilas bentuknya mirip Masjid Agung kota Demak yang juga merupakan peninggalan sejarah. Banyak hal unik yang akan kita dapat dari bangunan Masjid ini. Salah satunya adalah konstruksi Masjid yang dibuat dari kayu tanpa menggunakan paku satu pun. Para pembangun masjid ini membuat sambungan antar konstruksinya dengan menggunakan pasak yang memungkinkan Masjid dapat dilepas pasang secara mudah (knock down). Selain itu, Masjid ini berdinding pelepah sagu yang disebut Gaba-gaba dengan setengah bagian tembok bercampur kapur. Walaupun Masjid ini sudah berkali-kali mendapat renovasi, namun bentuk aslinya tidak dirubah sama sekali dan masih serupa dengan bentuk ketika pertama kali dibangun.

Di bagian dalam Masjid, terdapat 4 pilar yang merupakan pilar asli sejak Masjid dibangun. Sebuah bedug yang berumur sama dengan Masjid juga masih terawat dengan baik dan tentu saja masih digunakan sesuai fungsi seharusnya. Selain itu, sebuah peninggalan sejarah berupa Mushaf Alquran buatan Mushaf Nur Cahya terawatt baik hingga kini. Naskah Mushaf Alquran ini konon adalah yang salah satu yang tertua di Indonesia. Naskah ini dibuat dengan tulisan tangan di atas kertas berkualitas tinggi pada tahun 1500-an. Benda-benda ini hingga kini dianggap sebagai pusaka Masjid Wapauwe dan dirawat dengan baik oleh keturunan penjaga Masjid yang bermarga Hatuwe.

Masjid Wapauwe adalah warisan kekayaan budaya sekaligus religi masyarakat Maluku. Sejarah yang dimiliki bangunan ini sangat menarik untuk ditelaah dan dipelajari. Selain itu, konstruksi Masjid yang begitu unik beserta berbagai benda bersejarah lain di dalam Mesjid menjadikan tempat ini sebagai situs bersejarah yang tak ternilai harganya dan dimiliki tidak hanya oleh warga muslim di Maluku, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia.

 

[babahboim| sadur dari beberapa sumber di google]

photo by: Phosphone/IndonesiaKaya

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.