Universitas Trisakti Harus Tetap Dijalankan, Jangan Rugikan Mahasiswa Ataa Masalah Internal yang Terjadi.

Suasana Universitas Trisakti berangsur sepi setelah juru sita Pengadilan Negeri Jakarta Barat menunda eksekusi karena faktor keamanan. Mereka masih menunggu keputusan ketua pengadilan.


Sebelumnya, eksekusi putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) yang ‘menghukum’ Rektor Thoby Mutis dan kawan-kawan hengkang dari Universitas Trisakti, diwarnai kericuhan antara petugas juru sita dengan mahasiswa.

Pengacara pihak universitas, Bambang Widjojanto menyayangkan eksekusi tersebut. “Trisakti terlepas dari Yayasan Trisakti, sudah 20 tahun yayasan tak memberi kontribusi pada universitas,” kata dia, Kamis 19 Mei 2011 siang.

Ditambahkan Bambang, cikal bakal Universitas Trisakti adalah Universitas Res Publica (URECA) yang lantas diambil alih pemerintah dan diganti namanya. “Itu yang mendirikan pemerintah, bukan dari Yayasan Trisakti,” kata Bambang. “Saya juga heran pihak yayasan tidak melakukan investasi tapi mereka bilang memiliki.”

Bambang juga mengaku bingung mengapa pihak yayasan menggugat 9 tergugat. “Karena mungkin mereka pilar dari Trisakti,” kata dia.

Sembilan tergugat adalah, Prof.dr. Thoby Mutis, Advendi Simangunsong, Prof.dr.H.A Prayitno, I Bondjol, Yuswar Z Basri, H.I Komang Sukarsana, Endar Pulungan, Endy M Ansor, dan Hein Wangania.

Dalam putusan kasasi Mahkamah Agung, Rektor Universitas Trisakti diminta menghentikan seluruh kegiatan yang menyangkut Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Sengketa antara Yayasan Trisakti dan Universitas yang diwakili Thoby Cs dimulai pertengahan 2002, saat pemilihan rektor baru. Thoby mengubah Statusnya Universitas yang memangkas wewenang Yayasan dalam pemilihan rektor. Kubu Thoby juga mendirikan Badan Hukum Pendidikan Universitas Trisakti dengan Akta No. 27/2002, yang ternyata tidak diakui pemerintah dan pengadilan. Thoby pun terpilih lagi kala itu. Namun, Yayasan yang tidak mengakui lalu menggugatnya, tapi kandas di pengadilan tingkat pertama.

Pada Desember 2003, Pengadilan Tinggi Jakarta mengabulkan sebagian gugatan Yayasan Trisakti. Putusannya juga memangkas hampir semua wewenang Rektor untuk mengelola Universitas dan menyerahkannya ke Yayasan, termasuk hak pengelolaan rekening bank. Hal itu kemudian dikuatkan oleh putusan kasasi MA.

Universitas Trisakti sudah berdiri sejak tahun 1958 dimana pada saat itu nama yang digunakan adalah Universitas Baperki.

Penggunaan nama Baperki dikarenakan pada saat itu yang mendirikan universitas adalah para petinggi organisasi Baperki. Pada tahun 1962, terjadi perubahan nama universitas dari Universitas Baperki menjadi Universitas Res Publica.

Pemilihan nama Universitas Res Publica sendiri diambil dari petikan pidato kepresidenan yang disampaikan oleh Presiden Soekarno yang berarti “Untuk Kepentingan Umum”, sehingga Universitas Res Publica pada waktu itu adalah suatu wadah pendidikan yang didirikan dan bertujuan untuk mewakili kepentingan rakyat dan masyarakat banyak.

Selang beberapa tahun kemudian, Indonesia mengalami peristiwa G30S PKI pada tahun 1965. Ini mengakibatkan dibubarkannya organisasi Baperki oleh pemerintahan orde baru pada tahun 1966.

Kejadian ini secara langsung menyebabkan status Universitas Res Publica diambil alih oleh pemerintah. Hal ini disebabkan Universitas Res Publica pada saat itu digolongkan sebagai salah satu kendaraan golongan Komunis Indonesia yang anti Pancasila, dan dianggap telah berkhianat kepada kedaulatan kehidupan kebangsaan dan bernegara.

Sejak saat itu tidak ada satupun mahasiswa Universitas Res Publica yang mau mengakui status kemahasiswaannya karena takut akan dicap juga sebagai pengkhianat bangsa.

Setelah dibubarkannya Universitas Res Publica dan diambil alihnya gedung operasional oleh pemerintah masa orde baru, universitas ini diberi nama Universitas Trisakti.

Nama tersebut merupakan penganugrahan langsung dari Presiden Soekarno. Pembentukan susunan kepengurusan dan keanggotaan dewan operasional yang dilakukan dan dipimpin langsung oleh pemerintah.

Dari pembentukan tersebut maka disepakati bahwa universitas akan dipimpin oleh Presidium sementara yang terdiri dari tiga unsur, yaitu unsur Departemen PTIP, unsur ABRI (sekarang TNI) dan unsur Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB). Nah, setahun berikutnya tepatnya pada tahun 1966 Yayasan Trisakti baru didirikan.

Hanya saja yayasan disini dibentuk bukan sebagai pendiri universitas melainkan hanya sebagai pengelola dan pelaksana kegiatan pendidikan sehari-hari.

Jadi terkait dengan kasus eksekusi diatas apakah sudah dapat diambil kesimpulannya seperti apa, apakah pihak yayasan masih harus ngotot untuk mengambil alih Universitas Trisakti yang jelas-jelas telah didirikan oleh pemerintah dan Presiden Soekarno sendiri yang memberi nama Trisakti tersebut.

Lagipula lahan yang digunakan sebagai tempat berdirinya universitas tersebut juga milik pemerintah kok, terus kenapa harus diperebutkan.

Tidak adakah jalan yang lebih baik lagi selain EKSEKUSI, mau ditaruh dimana wajah pendidikan kita kalau sampai sebuah institusi pendidikan tinggi harus dieksekusi karena masalah internalnya sendiri.

Apakah kalian tidak pernah melihat bahwa empat mahasiswa kalian harus gugur dalam Tragedi Trisakti 1998, Elang Mulya Lesmana, Hafidhin Royan, Hery Hartanto, dan Hendrawan Sie telah menjadi korban dalam proses penggulingan Presiden Soeharto dengan sistem orde barunya.

Dukungan sepenuhnya kita harus berikan kepada mahasiswa/i yang saat ini masih mengenyam pendidikan disana, diharapkan semua masalah yang sedang menimpa Universitas Trisakti saat ini tidak menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Dan meskipun pada akhirnya proses eksekusi harus dijalankan, semua aktivitas kegiatan belajar mengajar di Universitas Trisakti HARUS TETAP DIJALANKAN.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s