Perspektif “Dwi Tunggal” Kuliner Minangkabau

Lamang terbuat dari beras ketan bercampur santan. Kaloborasi ini dituangkan kedalam bambu yang sudah dilapisi daun pisang. Cukup dilakukan pengapian selama dua jam, percampuran itu akan menciptakan lamang.

image

Kudapan ini dengan gampang ditemui di pasar tradisonal di Ranah Minang. Di bulan Ramadhan ini, lamang juga banyak dijual di pusat-pusat ‘pabukoan’ (pusat penjualan hidangan berbuka puasa).

Sebab itu, lamang sering kali menjadi bagian hidangan berbuka di hampir tiap rumah tangga di Minangkabau.

image

Biasanya, lamang dikonsumsi sehabis shalat tarawih. Padanan tepat lamang adalah tapai, sejenis penganan yang dihasilkan dari proses peragian atau fermentasi.

Tapai sering juga disebut tape, bisa dibuat dari dua bahan dasar yakni singkong dan beras pulut atau ketan. Tape yang terbuat dari singkong disebut dengan tape singkong, sementara tape yang terbuat dari beras pulut disebut tape pulut atau tape ketan hitan atau tape ketan putih.

image

Tapai terbuat dari beras ketan dengan ragi. Beras ketan hitam sering menjadi pilihan karena dianggap lebih berasa dibanding beras ketan lainnya.

Proses pembuatannya dilakukan melalui proses fermentasi, dengan menggunakan berbagai jenis mikroorganisme seperti, saccharomyces cerevisiae, rhizopus oryzae, endomycopsis burtonii, mucor, dan lainnya.

Setelah proses fermentasi selesai, beberapa buah cabe ditabur diatas tapai untuk menambah rasa hangatnya. Per bungkus biasanya dijual dengan harga Rp 5 ribu hingga 10 ribu, tergantung besar bungkusannya.

Disamping tapai, lamang juga enak dikudap dengan durian, cendol, dan bubur kampiun.

image

Lamang dan tapai adalah dwi tunggal dalam perspektif kuliner di Minangkabau. Seperti kata pepatah, Lamang tanpa tapai ibarat sayur tanpa garam.

Lamang tape bemuatan karbohidrat layaknya nasi, sehingga sangat tepat menjadi alternatif untuk pengisi perut setelah shalat tarawih hingga jelang sahur.

image

Dalam bulan puasa ini, lamang tape biasanya menjadi kudapan favorit  dalam ritual  Ramadhan seperti, sembahyang 40, peringatan Nuzulul Qur’an, acara MTQ, dan ibadah shuluk yang dilakukan tarekat tertentu.

Jamaah yang biasanya melaksanakan ritual ibadah seperti diatas, menyantap lamang habis shalat tarawih atau sedang mendengarkan ceramah agama. Begitu pun halnya dalam pelaksanaan MTQ, dimana lamang tape menjadi menu yang diketengahkan.

Tradisi ‘malamang’ (proses pembuatan lamang) ini dapat ditemui hampir di seluruh wilayah Minangkabau baik di daerah darek (darat), seperti Tanah Datar, Solok, Agam, Bukitinggi, 50 Kota Payakumbuh, maupun di daerah pesisir pantai ; Padang, Pariaman dan Pesisir Selatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s