Jakarta Kota Internasional

Selain berasal dari berbagai suku bangsa Indonesia, sejak lama penduduk Jakarta atau dulunya Batavia, banyak berasal dari mancanegara.

Di jaman kolonial Belanda, penduduk Batavia  banyak berasal dari Eropa (tentu saja terbanyak Belanda), Cina, Arab, India, Jepang dan beberapa lainnya. Merekapun banyak yang sudah lama menetap di Batavia.  Ini terbukti dari beberapa nama kawasan di Jakarta yang diidentikkan sebagai tempat pemukiman penduduk asal mancanegara tertentu sejak dulu.

Misalnya Glodok sebagai tempat penduduk keturunan Cina (Pecinan), kampung Tugu kediaman “keturunan Portugis”, Pekojan (dari kata Koja yaitu sebutan untuk orang Moor dari India), Krukut sebagai kampung Arab dan Pasar Baru sebagai pemukiman orang India. Anehnya, di Jakarta tidak ada kampung Belanda, padahal banyak orang Belanda sudah lama menetap disini. Yang ada hanya nama “kota intan”, Weltevreden, dan Menteng yang merupakan konsentrasi masyarakat Belanda di zaman Belanda dulu.

Di zaman kolonial, penduduk Jakarta dibedakan secara hukum. Yaitu dibagi atas tiga golongan besar. Pembagian ini juga mencerminkan status sosial masing-masing golongan penduduk itu. Golongan pertama ialah penduduk Eropa atau disebut Europeanen. Atau yang sekarang dibilang orang bule.

wajah-pasar-baru-jakarta-tempo-dulu41

Mereka mempunyai hukum sendiri dan merupakan kasta tertinggi diantara penduduk di Hindia Belanda waktu itu. Kemudian diikuti oleh golongan penduduk yang disebut Timur Asing atau dalam bahasa Belandanya Vreemde Osterlingan, yaitu penduduk yang berasal dari Asia seperti orang Cina, Arab dan India. Anehnya, orang Jepang, Thailand dan Filipina tidak digolongkan ke dalam penduduk Timur Asing ini, tetapi masuk golongan Eropa.

Sungguh tidak masuk di akal bukan? Itu mungkin karena kemajuan sosial ekonomi Jepang, Thailand yang negara merdeka dan Filipina yang dibawah Amerika Serikat. Rupanya asal geografis dan warna kulit dalam praktek rasialisme dapat dikalahkan oleh status sosial dan ekonomi sejak dulu. Sedangkan golongan penduduk yang paling bawah ialah inlanders atau pribumi.  

Penduduk Eropa di Jakarta pada jaman kolonial, selain mayoritas orang Belanda (banyak juga yang Indo Belanda), juga terdapat orang Jerman, Perancis, Inggeris, Hongaria, Rusia, Polandia dan beberapa lainnya seperti Armenia. Bilangan Harmoni sekitarnya misalnya, pada zaman kolonial terkenal sebagai daerah Perancis atau Franse buurt.

Karena disitu terdapat beberapa toko kepunyaan orang Perancis, misalnya yang terkenal hingga permulaan tahun 1950an toko Oger Freres (Oger bersaudara) yang membuka usaha penjahitan/pembuatan mode pakaian dan beberapa perusahaan lainnya. Ada juga toko orang Yahudi di situ, misalnya toko kacamata Ezekiel.

Lapangan golf Rawamangun dulu disebut sebagai lapangan Inggeris, karena dimulai oleh orang-orang Inggeris. Juga lapangan Pancasila di jalan Borobudur daerah Pegangsaan dulu juga disebut sebagai lapangan Inggeris, karena digunakan oleh komunitas Inggris di Jakarta hingga tahun 1950an untuk kegiatan rekreasi mereka, misalnya bermain cricket, permainan semacam baseball yang sangat mereka gemari.

Selain itu juga ada gereja Inggeris (Anglican) di Jalan Arief Rachman Hakim dekat tugu Pak Tani. Di jaman Belanda nama jalan ini jalan Gereja Inggeris atau Engelse Kerk .Di jalan Budi Kemuliaan yang sekarang menjadi bagian Bank Indonesia, hingga tahun 1950an terdapat Gereja Ortodoks Armenia.

23qw

Sesudah tahun 1950an, penduduk bule hilang karena politik Orde Lama yang memusuhi negara Barat. Namun sesudah pembangunan ekonomi Orba sejak akhir tahun 1960an, orang bule mulai berdatangan lagi di Jakarta. Begitu juga orang Jepang dan Korea sehingga Jakartapun menjadi kota internasional lagi!

121

#SelamatHariJadiKotaJakarta
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s