Indonesia Bangkit…!!!!

Tanpa menyantap steak sekali pun kita bisa berbangga dengan rendang. Tanpa bergaya Harajuku pun kita mampu mengangkat dagu dengan kebaya. Tanpa tampil eksentrik dengan berkiblat ke barat pun kita akan tetap cantik dengan kain batik.

image

Kutipan sederhana ini sangat & bermakna agar bangsa ini bisa bangkit Dari keterpurukan…

Als ik Nederlander was (Seandainya Saya Seorang Belanda), Soewardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara bermain perumpamaan ketika melontarkan sindiran kerasnya terhadap pihak Belanda dalam sebuah artikel, setelah Boedi Oetomo didirikan pada 20 Mei 1908.
Tulisan itu telah mengerangkeng kemerdekaannya dari perjuangan membangkitkan nasionalisme orang-orang pribumi untuk terlepas dari penjajahan bangsa asing.
Namun kini, setelah 107 tahun berlalu setelah era kebangkitan nasional itu, andai-andai itu telah mengalami pergeseran yang sangat signifikan dari sebuah andai-andai yang merupakan kritikan pedas atas penjajahan bangsa asing, menjadi sebuah keinginan keras untuk menjadi seorang asing. Perumpamaan itu telah memenjarakan pola pikir generasi muda saat ini dari kemerdekaannya untuk merasa “Bangga menjadi Indonesia.”

Generasi lepas seabad kebangkitan nasional, mengindikasikan pergeseran semangat nasionalisme itu. Generasi kini ialah generasi jika aku menjadi: orang Jepang, orang Amerika, orang Prancis, orang Belanda, atau orang-orang lainnya yang kesemuanya tidak lain merupakan bangsa asing, bukan bangsa kita, bukan identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Bukan lagi hal fenomenal jika kita melihat muda-mudi dengan bangganya berbicara, berbusana, bahkan bergaya ala Amerika, Jepang, atau bangsa lainnya.

Mengapa semua ini bisa terjadi? Barangkali, lagi-lagi, kita kembali berandai-andai. Seandainya saja Belanda tidak pernah menjajah fisik serta mental bangsa kita selama 3 ½ abad lamanya, atau Jepang yang mencabik-cabik harga diri kita selama 3 ½ tahun lamanya, mungkin saat ini kita adalah bangsa yang berdaulat secara fisik dan mental. Kita tidak akan semudah itu terombang-ambing arus pengaruh dari bangsa mana pun, sebab muasal kerapuhan mental adalah keterbiasaan sebuah bangsa sekian abad lamanya dalam penjajahan. Kita menjadi terbiasa menjadi terpengaruh, bukan pemengaruh.

Akan tetapi, terus berandai-andai hanya akan membuat kita diam di tempat, bahkan cenderung banyak beristirahat dari keinginan untuk mengingat tentang sejati diri kita sebagai bangsa. Dengan kecenderungan generasi masa kini berkiblat ke barat, angkuh dikarenakan ikut pengaruh, serta merasa malu apabila bertingkah-laku seperti orang Indonesia pada umumnya, kita sudah mesti berhati-hati, bila lampu rambu-rambu nasionalisme itu telah berwarna kuning, dan dalam satu jentikan jari, barangkali, akan segera berubah merah.

Tentu tentang itu bukanlah hal tabu. Berbicara, berbusana, maupun bergaya adalah bagian dari budaya nasional yang niscaya tidak akan terlepas dari asimilasi budaya internasional. Asimilasi adalah situasi yang wajar terjadi, selama akar-akar muktabar budaya bangsa kita masih menjalar, erat membebat hati kita sebagai bangsa Indonesia. Bahkan di dalam satu kesatuan besar nusantara saja, pembauran budaya itu terjadi dan bersinergi antar budaya suku-suku yang ada. Suku Aceh, Batak, Jawa, Bali, Melayu, Betawi, Madura, Minangkabau, Bugis, Banjar, Sasak, Papua, serta ribuan suku yang terdapat di nusantara, sedikit banyak saling memberi pengaruh satu dengan lainnya.

Perkara biasa jika saja peresapan budaya internasional itu terjadi pada budaya kita, sebab kita adalah bangsa yang tidak menutup diri dari pergaulan antar bangsa. Terlebih, teknologi masa kini berikut para pionnya telah membuka klep penyumbat antar negara, juga antar benua, sehingga saban warga dunia selayaknya berada bersama-sama dalam satu wadah global tanpa adanya suatu sekat. Tetapi jika kita kembali sadar akan jati diri kita sendiri sebagai bangsa Indonesia, ketiadaan suatu sekat bukanlah penghambat bagi merawat rasa nasionalisme itu.

Nasionalisme bangsa ini bangkit bukan dalam hitungan hari, melainkan abad, setelah melalui jalan panjang terjal yang menjajal bulat serta kuatnya tekad para pendahulu demi memersatukan tanah air tercinta ini.
Merah putih bisa berkibar dengan megahnya bukan dari perjuangan dalam semalam. Merah warna bendera kebangsaan, bukan sekedar tentang sebetapa merah semangat para patriot itu terbakar. Merah adalah juga tentang merahnya jalan sejarah yang harus dilewati para pendahulu kita menuju gerbang kedaulatan. Dan putih warna bendera, sudah bisa dipastikan, salah satunya, mewakili murni serta suci niat para pahlawan berjuang untuk kemerdekaan.

Namun, saat ini timbul pertanyaan, Apakah bangsa ini benar-benar sudah merdeka? Sudah berdaulat? Ataukah kita sendiri yang tidak terbiasa merdeka? Dan membiasakan diri untuk tetap tidak berdaulat sepenuhnya? Barangkali kita tidak merasa aman tanpa adanya suatu ketergantungan terhadap bangsa lain? Atau bisa jadi kita tidak bisa berdiri teguh jika tidak berada di bawah pengaruh?

Secara eksplisit bisa terlihat, budaya korupsi serta manipulasi terwarisi dari masa kolonial dan –celakanya kemudian dibudayakan dalam nyaris setiap sendi-sendi kehidupan berbangsa saat ini. Korupsi menjadi-jadi, manipulasi  seperti bakteri yang tak henti menggandakan diri. Penguasa membiarkan, atau malah membudayakan rakyatnya untuk terus termanipulasi, baik oleh bangsa sendiri, terlebih oleh bangsa lainnya. Hal ini tentu saja akan kian menenggelamkan kita dalam kealpaan, bahwasannya tengah dibodohi dan tengah kembali terjajah oleh desain lain kolonial secara mental dari sesama bangsa, pun lain bangsa.

Pembiaran ini akan membuat kita lupa pada betapa terjalnya jalan menuju kemerdekaan. Dan hanya bangsa yang lupa akan sejarah, yang tidak akan pernah mendapatkan kemerdekaan sejati. Sejarah dengan gamblang menyatakan, jika kondisi terjajah telah menarah harga diri sebagai bangsa serata tanah. Sejarah pula yang mengajari, bila perjuangan para pahlawan untuk membangkitkan rasa nasionalisme sangat berat, bahkan kerap ditebus dengan darah dan nyawa. Haruskah kobar nasionalisme yang membakar hati bangsa untuk merebut kemerdekaan Indonesia itu, kembali kita gadaikan pada desain lain dari penjajahan bernama ketergantungan terhadap pengaruh bangsa lain?

Memperbincangkan nasionalisme tentu bukan melulu perkara mempertahankan budaya, gaya hidup, gaya bicara, gaya berbusana atau remeh-temeh lainnya yang harus selalu serba Indonesia. Ada hal lebih besar dari itu semua, yakni keinginan kuat untuk memerdekakan diri kita sendiri dari ketergantungan pada opini, jika kita tidak akan dihargai apabila tidak mengikuti pola pikir dan pola bersosialisasi dari bangsa lain.

Tanpa menyantap steak sekali pun kita bisa berbangga dengan rendang. Tanpa bergaya Harajuku pun kita mampu mengangkat dagu dengan kebaya. Tanpa tampil eksentrik dengan berkiblat ke barat pun kita akan tetap cantik dengan kain batik. Tidak ada yang akan mati karena gaya hidup yang tidak bergengsi. Namun tentu, sekali lagi, nasionalisme tidak sesederhana itu untuk ditegakkan kembali.

Pastinya kita semua memahami, jika biasanya nasionalisme tercungkil disebabkan adanya bahaya yang mengancam kedaulatan sebuah bangsa. Nasionalisme adalah naluri mempertahan diri dari segala macam ancaman bangsa asing yang hendak menyerang dan menaklukkan negeri. Bertolak dari naluri ini, bukankah pengaruh yang dibawa bangsa asing itu telah mengintimidasi serta bisa dikategorikan sebagai sebuah ancaman yang patut kita perangi dengan semangat nasionalisme?

Semua makhluk hidup memiliki metode pertahanan diri ketika berhadapan dengan suatu ancaman. Bahkan hewan-hewan kecil sekali pun mempunyai metode ganjil untuk mempertahan-kan diri dari serangan. Hewan bengkarung menggelembungkan tubuhnya dengan udara hingga membesar lebih dari 27x besar asli ketika mempertahankan diri, kumbang bombardier mengebom musuhnya dengan cairan asam, atau belut listrik yang mampu menyetrum predator dengan kekuatan 600 volt. Dengan 100 juta sel saraf di otak manusia, niscaya kita bisa lebih cerdik menelisik ancaman sejati yang mesti kita perangi, dan sebetapa pentingnya nasionalisme itu kita tegakkan kembali demi mempertahankan bangsa ini dari penjajahan, apapun bentuknya.
Untuk itu marilah kita Bangkit bersama, dimulai dengan memahami bangsa ini, Cinta produk, budaya Dan alam Indonesia. Banyak hal yang masih bisa dikembangkan Di Negeri Ini… Jangan biarkan kita terjajah, kita harus merdeka..!!!

#HariKebangkitanNasional

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s