Hai…Mahasiswa Seremonial…!!! Apakah kalian akan tetap ikut aksi 21 Mei

Tulisan saya kali ini dominan berisi pertanyaan. Saya semaksimal mungkin menghindari teori-teori–hingga justifikasi. Saya hanya ingin menulis dengan beberapa pertanyaan yang saya tujukan khusus kepada segenap mahasiswa yang ikut makan malam bersama dan kemudian secara paradoksal menyatakan sikap untuk mendemo Jokowi pada 21 Mei 2015 besok.
image

Karena terkadang, cara paling bijak menulis pernyataan adalah mengajukan pertanyaan.

Maka berikut pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, mungkin masih banyak lagi benih-benih pertanyaannya, tetapi untuk saat ini cukup beberapa pertanyaan saja yang (akan) saya publikasikan, antara lain sebagai berikut:

Kenapa kawan-kawan mahasiswa mau melakukan makan malam bersama Jokowi yang notabene adalah simbol negara yang akan didemo?

Kalau menyampaikan aspirasi secara langsung (tatap muka) dengan Jokowi lebih efektif, buat apa harus melakukan aksi?

Kenapa tuntutan aksi bersama di 20 Mei tersebut hanya berkutat pada persoalan permukaan (ekterioritas) kenegaraan saja?

Kalau memang benar-benar yang dilakukan adalah perjuangan populis, kenapa corak aksinya bersifat elitis (makan malam bersama presiden yang notabene adalah simbol yang akan didemo)?

Sebenarnya yang dicari kawan-kawan mahasiswa (organisasi) itu aksi massa-aksi revolusi atau sekadar ajang unjuk eksistensi dan tebar sensasi?

Lagi, kenapa isu yang diangkat bukan isu-isu yang substansial dan fundamental, dan bukan akar permasalahan yang diangkat melainkan isu-isu rendahan yang sesungguhnya hanyalah implikasi dari kebobrokan sistemik kebangsaan dan kenegaraan. Kenapa? Kenopo toh, mas?

Kenapa kawan-kawan mahasiswa (organisasi) terlihat tidak serius melakukan aksi? (Hal itu bisa dilihat dari minimnya konsolidasi pergerakan aksi tersebut). Apa jangan-jangan sengaja pergerakannya diekslusifkan agar aliran airnya tidak terlalu terbagi ke banyak keran? Dan lantas kemudian menyerukan aksi–lewat media massa–kepada mahasiswa lain untuk turut berpartisipasi agar terkesan membutuhkan kuantitas, dan rame (padahal tujuannya untuk hemat anggaran)?

Sebenarnya kawan-kawan mahasiswa sadar atau tidak bahwa dengan bertemu Jokowi secara langsung itu sudah jauh lebih baik ketimbang melakukan aksi dengan ratusan-ribuan mahasiswa? (Sebab dengan bertemu langsung, aspirasi yang disampaikan langsung didengar dan komunikasinya lebih efektif dan efisien) Maka kenapa tak langsung saja disampaikan inti tuntutan kawan-kawan mahasiswa di depan Jokowi langsung saat makan malam itu berlangsung?

Sekali lagi, sebenarnya yang dicari kawan-kawan mahasiswa (organisasi) itu aksi massa-aksi revolusi atau sekadar ajang unjuk eksistensi dan tebar sensasi?

Secerca pertanyaan-pertanyaan di atas tersebut tidak perlu dijawab karena sudah terkandung jawabannya di dalam. Ambigu? Itulah cerminan diri kalian mahasiswa seremonial!

Komentar Dari:
#YangPernahdibuangOlehRezim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s