Kita harus mulai Belajar Memaafkan

Belajar Memaafkan Hidup adalah sebuah pembelajaran. Dan satu hal yang sering kita lupa adalah…

” MEMAAFKAN “

Sekedar berbagi cerita tentang sepatah kata yang bernama…. maaf. maaf

Tentang beberapa istilah atau pernyataan yang rasanya logis… namun pada kenyataannya. ..  kok tidak seperti itu  yaaa…

1. Kalau dia salah, ya dia minta maaf saya ga salah, buat apa saya minta maaf. Gengsi ah… Biar dia tahu diri dong. ..! Enak aja… !! Sebuah kalimat, yang terdengarnya wajar… dan logis.

Namun perlu disadari memang itulah harga sebuah gengsi. Harga sebuah hubungan baik… seringkali mesti dibayar dengan satu hal yang namanya gengsi.

Kita mesti mengikis apa yang disebut harga diri dan juga keangkuhan. Hubungan baik dan gengsi itu berbanding terbalik. Anda harus mengorbankan salah satu, untuk memperoleh yang lainnya.

Dalam banyak pertengkaran dan clash…

kesalahan umumnya tidak cuma ada di salah satu pihak. Kebanyakan dua pihak melakukan kesalahan… meski mungkin kadarnya tidak seimbang. Yang sering jadi masalah itu karena kedua pihak sama-sama tidak merasa bersalah…

berpikir bahwa orang lainlah yang sepantasnya datang kepada dirinya dan minta maaf. Dan sebagai akhir… tidak ada titik temu.

Pertengkaran tidak berakhir. Sahabat, mulailah dengan berkata, maaf… meski mungkin Anda tahu Anda tidak benar – benar bersalah. It’s really better for your heart. Ingat bahwa salah satu kunci untuk hidup bahagia adalah:

Melepaskan diri dari perasaan marah dan dendam. saya belajar menerapkannya, dan saya… lebih bisa merasa damai, (Walau sangat berat untuk memulainya)

Untuk orang-orang yang bahkan belum meminta maaf atas kesalahannya saya tetap berpikir, saya memaafkan mereka.

Mungkin aja mereka ngga sadar atau belum tahu kalau mereka itu salah. Namun sekali lagi, belajar untuk bisa memaafkan. Mungkin mereka hanya…

belum tahu kalau hal seperti itu tidak baik adanya

2. saya mau balas dia supaya dia sadar dan berubah Alasan yang terkesan heroik dan baik. saya melakukannya untuk kebaikan dia. Supaya dia bisa bertobat dan jadi lebih bener.

Waw…

Namun sayangnya dalam banyak hal, perkataan semacam ini lebih sering untuk memuaskan keinginan diri sendiri daripada orang lain. Secara sadar maupun tidak, manusia itu punya kecenderung an untuk merasa puas jika ia berhasil mempengaruhi orang lain.

Dalam teori kepemimpinan, ini disebut dengan needs of power. Keinginan untuk dituruti. Pembalasan bukanlah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Anda tidak akan menjadi orang yang terlalu pengecut dengan tidak membalas perbuatan jahat yang orang lain lakukan kepada kamu.

Kasihilah orang lain, meski Anda tahu mereka berbuat jahat kepada kamu. Mulailah dengan memaafkan. .. bukan dengan menuntut sebuah perubahan.

3. Waktu akan menyembuhkan luka hati Biar waktu yang bicara.

Hmm, terdengar bijak dan hebat.

Waktu memang akan memulihkan semua kebencian dan dendam… jika diawali dengan kesediaan untuk membuka diri dan hati. Untuk mau memaafkan. Waktu tidak akan membuat hubungan menjadi pulih… tanpa adanya kesediaan untuk memaafkan.

Waktu hanya akan mengorek luka semakin dalam dan membuat semua perasaan semakin tak karu-karuan.
Jangan pernah berpikir bahwa waktu cukup untuk menyembuhkan. Kesediaan untuk memaafkan… itulah yang pertama – tama harus ada. Bukan sekedar mengharap … waktu bicara.

“Memaafkan itu indah…

tetapi meminta maaf itu lebih indah”

– Semoga Bermanfaat –

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s